Postingan ini sih sebenarnya lebih
ke jawaban penenang dalam “kesendirian” aku (tidak punya pacar) hehe....
Pacaran. Suatu hal yang rasanya
sudah jadi tindakan “trend” di sebagian kalangan remaja. Bahkan tidak hanya di
kalangan remaja saja, anak-anak SD yang istilahnya masih ingusan dan dinina
boboin mama, banyak yang sudah berpacaran. Miris kan ??
Sudah punya berapa ?” “Kapan nih
bawa aa nya?” “Kenalin dong pacarnya orang mana!” ...
Aku yang selalu dibuat terdiam dan hanya tersenyum saat orang-orang melontarkan kata-kata itu. Atau jika kata itu terlontar dari mulut mama, aku selalu menjawab “nanti”. Saat itu, aku terlalu sulit menerima lelaki untuk status “pacar”. Aku memang bisa dikatakan tipe cewe pemilih, tapi tidak keterlaluan sih. Semua itu karena aku bercermin dari cerita teman-teman yang diselingkuhin lah, dikerasin pacar lah, over protectiv lah. Tak hanya dari cerita orang pacaran, aku bercermin dari mereka yang sudah berkeluarga yang tidak sedikit ada penyesalan karena mereka terlalu terburu-buru dan tak berhati-hati memilih pasangan.
Aku yang selalu dibuat terdiam dan hanya tersenyum saat orang-orang melontarkan kata-kata itu. Atau jika kata itu terlontar dari mulut mama, aku selalu menjawab “nanti”. Saat itu, aku terlalu sulit menerima lelaki untuk status “pacar”. Aku memang bisa dikatakan tipe cewe pemilih, tapi tidak keterlaluan sih. Semua itu karena aku bercermin dari cerita teman-teman yang diselingkuhin lah, dikerasin pacar lah, over protectiv lah. Tak hanya dari cerita orang pacaran, aku bercermin dari mereka yang sudah berkeluarga yang tidak sedikit ada penyesalan karena mereka terlalu terburu-buru dan tak berhati-hati memilih pasangan.
Tak menampik, aku pun sudah
pernah pacaran. Ya meski jarang banget ada waktu bertemu, komunikasi
pun seringnya lewat media komunikasi dan itupun ga setiap detik, menit, jam, kita ada waktunya. Sebenarnya sih kalau
dipikir-pikir ga ada sesuatu yang mencolok untuk bedain teman dan pacar selain
di status saja. Buktinya selama pacaran aku pun berkomunikasi seperti halnya
aku bersama teman-teman yang lain. Paling ya beda perhatiannya aja, misal “udah
makan belum” “udah pulang?” “udah shalat?”.. (Kaya punya pengawal aja ya :D) Memang,
alibi punya pacar yang katanya “penyemangat belajar” itu aku rasakan. Tapi, buyarnya konsentrasi
juga aku rasakan. Betapa tidak, dikit-dikit kangen, dikit-dikit inget, dikit-dikit
terbayang (Lebay yah kalau diingat? :D).
Atas banyak pertimbangan akhirnya status pacaran hanya bertahan beberapa bulan
dan kami putuskan untuk kembali menjadi teman. Setelah itu, aku menghabiskan
waktu berkomunikasi hanya dengan keluarga dan teman-teman.
Ditengah aku yang terkadang
merasakan kesepian dan kata orang sedang
berstatus “jomblo”, aku menemukan petuah-petuah yang membuat aku merasa
tersadar dan termenung. Petuah-petuah tersebut aku dapat dari tweetnya ustadz
@felixsiauw . Berikut isinya :







