Hari jumat, setibanya aku pulang dari kampus mama tiba-tiba mengatakan kalau mama ada rencana untuk memeriksakan lagi skoliosisku. Sontak aku bingung, ajakan mama itu tiba-tiba
begitu saja. Padahal sudah agak lama aku tak pernah lagi mengutarakan kesakitan
ke mama. Aku baik-baik aja tak ada keluhan. Yang aku tahu, rencana mama itu
setelah mama membaca salah satu note di facebook yang nyeritain kisah
perjalanan operasi skolioser, maklum mama juga selalu mencari informasi yang
berkaitan sama skoliosisku ini. Sempat mama nanya aku soal kesiapan operasi,
tak ada kata yang keluar sepatahpun aku hanya menunduk. Mama bilang “mama siap
jika itu akan membuat teteh sembuh.” Aku tak menghiraukannya, karena aku pikir
aku udah membaik dan tak perlu operasi. Setelah
itu, mama menelpon Mba Trie, beliau merupakan pemerhati skolioser. Mama
nyeritain gimana kondisi aku, juga minta saran langkah apa yang harus dilakuin.
Mba Trie nyaranin agar aku dibawa ke dokter spine, dokter spesialis tulang belakang.
Minggu malam, mama pun tiba-tiba lagi mengajak aku untuk
bertemu dokter Husodo. Aku sempat tak setuju karena saat itu tugas kuliah
sangat menumpuk. Tapi setelah mama bujuk, oke lah aku mau. Senin pukul 16.00
kami menuju Garut, butuh waktu 2 jam an untuk sampai ke tempat itu. Sesampainya
disana kami bertemu Teh Linda, dia salah satu skolioser Garut. Oh iya dia yang
udah banyak membantu kami hingga sampai ke tempat itu. Sembari menunggu dokter,
kami berbagi cerita. Teh Linda nyeritain perjalanan skoliosisnya hingga dia
berada di meja operasi. Subhanallah sekali, banyak hikmah dan motivasi yang dapat diambil dari kisahnya. Teh Linda pun berhasil memberi tahu bapak lebih detail apa itu skoliosis.
Setelah 2 jam menunggu, dokter pun datang. Seperti biasa
dokter beranamnesa, dan dengan muka tenang aku yang menjawab “Skoliosis, dok.” Kemudian
dokter meminta aku untuk melakukan gerakan ruku dan membuka brace.
“Gede banget ya”, ucap beliau singkat. Mulai aku gak enak
hati, tapi aku tetap berbaik sangka. Selanjutnya dokter meminta hasil rontgen
dan beliau mengukur ulang. Hampir sepuluh menit kami menunggu dan melihat
dokter membolak-balikan alat ukur.
“Sebelumnya berapa derajat?”
“Sebelum memakai brace 40 (thoraks) sama 39 (lumbal),
setelah memakai brace 6 bulan jadi 32 sama 28.”
Seperti kebingungan, lalu dokter mengukur ulang. Dengan
sangat perlahan-lahan, beliau berkata “Menurut saya itu salah, sebelum pakai brace
45 sma 40, dan setelah memakai brace jadi 50(lumbal).” Sementara bagian thoraks
tidak terbaca karena hasil rontgen kurang baik.
LEMAS. Wajah mama merah lalu sedikit air matanya keluar, beliau
mungkin tahu arti dari angka 50 itu. Astagfhirullah...Sebenarnya aku pun tak
tahan, namun saat itu aku tersenyum sangat lebar seperti yang sedang bahagia,
aku berusaha untuk menguatkan mama dan meyakinkan aku tak perlu ditangisi. Mama
sempat bilang bahwa dokter itu keliru,
mama minta dokter untuk mengukur ulang.
“Jadi brace itu gak ada pengaruhnya, dok?”
“Iya bu, skoliosis si neng ga bisa ketahan sama brace.”
Jawab dokter.
“Terus langkah apa yang harus kami lakukan.”
“Ya pasang pen di dalem.” Jawaban yang kalem tapi dalem.
Astagfhirullah Astagfhirullah Astagfhirullah. Ini kali ke-2nya
kami mendengar vonisan bahwa aku harus operasi. Bukan, bukan aku terkejut
dengan kata operasi, tapi aku merasa sudah diangkat tinggi-tinggi kemudian
dijatuhkan dengan keras. Sebelumnya, aku sudah menjadi pasien tetap salah satu
Rumah Sakit di Bandung. Aku sudah ditangani sama dokter rehab yang bikinin aku
brace. Sudah hampir 2 tahun aku berobat jalan, setiap 3 bulan sekali aku
kontrol dan fisiotherapy. Enam bulan setelah memakai brace, ada sesuatu yang
membuat kami bahagia tak terkira. Dua dokter di Rumah Sakit tersebut mengatakan bahwa
derajat aku berkurang sangat lumayan besar. Mereka mengatakan bahwa itu “miracle”.
Iya aku pun mengira seperti itu, karena jarang-jarang curvanya berkurang sampai
sebesar itu. Malah aku tak pernah mendengar dari mereka, berkurang curva
setelah memakai brace. Yang aku tahu, brace itu tak bisa mengurangi, tapi
sekedar menghambat agar tak terlalu parah. Saat itu aku merasa seperti orang
yang paling beruntung sedunia. Satu tahun setengah aku sangat bersemangat
memakai brace, aku tak menghiraukan bagaimana rasa sakit, rasa panas, sesek. Aku
tak perduli dengan badan aku yang terlihat kaku seperti robot, dan susah sekali untuk bergerak bebas. Aku tak perduli
dengan pandangan aneh dari orang. Bahkan aku mengesampingkan rasa malu ketika
badanku mengeluarkan aroma tak sedap karena keringat. Sangat setia sekali, aku
memakainya 24 jam full kecuali mandi. Yang aku pikirkan saat itu hanya ingin
curva berkurang dan menghindar dari meja operasi.
Ternyata, semua itu tak berhasil. Kata “MIRACLE” itu
ternyata TIDAK ADA. BAHAGIA dulu, juga TIDAK ADA.
Brace, mungkin aku agak sedikit kecewa. Sensasi mu selama setahun setengah aku anggap tak terlalu berguna meski kau sedikit meringankan rasa sakit dan membuat badanku menjadi tegap. Kini aku tak akan lagi memakaimu, menempelkanmu di tubuh ini, aku akan menyimpanmu rapi-rapi. Karena skoliosisku tak cocok denganmu. Terimakasih untuk sensasimu selama ini brace, terimakasih udah menjadi penopang. Selamat beristirahat.........
Braceku,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar