Sabtu, 24 Maret 2012

Awal Mengenal Sang "S"

….“Hey kamu yang tegak dong”
…..“Siapa pak, saya?”
…..“Iya kamu yang tegak” (dengan muka tegang)
…..“Udah tegak ko pak”
…..”Masih keliatan bungkuk!!!!!”
Percakapan itu yang menjadi awal cerita skoliosisku…
Saat itu, SMP ku akan mengikuti LTUB tingkat kabupaten, sepulang sekolah kami harus latihan. Pelatihnya itu super duper tegas, bungkuk sedikitpun langsung ditegur. Aku salah satunya orang yang sering sekali dapet teguran gara-gara menurut beliau posisi badan aku selalu bungkuk. Walaupun sama sekali ga ngerasa, tapi aku selalu diam seolah-olah mengiyakan apa yang pelatih itu katakan. Tak ada pikiran apa-apa, saat itu aku hanya berusaha untuk membenarkan posisi tubuh agar tegak…

Hari minggu, aku mengajak teman-teman kerja kelompok di rumah karena saat itu detik-detik kami menjelang UAN.
….”Vy, ko punggung kamu nonjol sebelah sih?” celetuk salah seorang teman
….” Ngga laah, perasaanmu kali“ jawabku singkat
Seolah-olah aku cuek dengan pertanyaan temanku tadi, padahal itulah kali pertamanya aku berfikir. Setelah mereka pulang, lantas aku langsung meminta mama untuk mengecek punggungku. Mama pun membenarkan, ternyata memang ada yang menonjol. Bapak telah mengetahui hal itu, dan langsung menyuruh untuk diperiksa.
Keesokan harinya, aku pun diantar mama ke RS. Kami bertemu dengan dr.Soenaryo, satu-satunya dokter orthopedi di kotaku. Tak panjang lebar mama mengutarakan keluhan, kemudian secepat itu dokter mengatakan “oooh … ini Scoliosis”. Tak ada ekspresi, wajah kami datar, kami hanya terdiam. Bukan karena syok, tapi kami memang belum paham betul apa itu scoliosis. Aku pernah sempat dengar kata itu pas pelajaran biologi, itu pun hanya sekilas.
Kurva lengkunganku saat itu 27 derajat. Dokter merujuk ke RSHS, menyarankan agar aku pakai brace (semacam penyangga). Namun sayangnya, bapak tak menuruti apa kata dokter. Bukannya pergi ke RSHS, bapak justru sibuk mencari pengobatan alternatif.

 Entah sudah berapa banyak tabib dan tukang pijit yang aku temui. Entah berapa kali waktu itu aku menangis menahan kesakitan.Tapi tak pernah aku tunjukan kesakitan itu di depan bapak, aku selalu berusaha baik-baik saja. Lelah rasanya,tapi aku tak berani menolak, aku hanya menuruti apa maunya bapak. Sering kali aku mengeluh sama mama, hanya satu kata yang aku dapat “Sabar”…….


Selama 2 tahun ke belakang, aku tak pernah memikirkan kondisiku walau sebenarnya rasa sesak mulai datang, aku menganggap badanku baik-baik saja tak ada masalah……..
Aku sudah kelas 2 SMA. Ada satu kejadian yang membuatku kembali memikirkan scoliosis. Saat itu pas pelajaran biologi (aku lupa lagi ngebahas BAB apa), tiba-tiba teman sekelasku tertawa puas pas liat slide di depan orang yang posisi badannya meliuk-liuk. Ibu mengatakan, kalau gambar itu penderita scoliosis. Sontak aku kaget, lantas aku nunduk, aku diam, aku seolah-olah ingin menghentikan mereka yang sedang tertawa. Jujur, saat itulah yang bikin aku jadi minder. Ternyata, kelainanku jadi ejekan orang, jadi bahan tertawaan L.
Pulang ke tempat kossan, aku langsung searching tentang scoliosis. Daaaan, inilah puncaknya. Saat itulah aku jadi paham betul apa itu scoliosis. Aku nangis lagi saat baca informasi tentang resiko-resiko yang akan aku hadapi di masa mendatang. Jantung dan paru-paruku akan semakin menyempit karena terdesak tulang, organku akan ada banyak yang terganggu, badanku akan semakin serba asimetris mulai dari bahu sampai kaki, penyembuhan scoliosis yang paling ampuh yaitu operasi dan itupun butuh dana yang sangat sangat mahal. Ya Allah……… Aku nangis dihadapan Teh Neni (yang kerja di Ibu kossan), aku sudah tak malu nangis dihadapannya karena dia lah yang selalu aku jadikan tempat berkeluh kesah (pengganti mama).
Hampir 2 minggu aku sempat down. Aku malu, aku minder, aku takut. Tapi aku merasa aku ga bisa terus-terusan terpuruk, aku iseng-iseng ngesearch kata ‘scoliosis’ di facebook, dan alhamdulillah semangatku mulai kembali. Aku menemukan sebuah perkumpulan penderita scoliosis , yaitu MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia). Di forum itu kita sering sharing, saling menyemangati, pokoknya aku seperti menemukan secercah cahaya hehehhe…

Singkat cerita, aku berkenalan sama Mba Mita, dia salah satu skolioser yang nulis buku “Berdamai dengan Skoliosis”, aku dapat bukunya. Isinya tentang kisah nyata kehidupan penyandang scoliosis. Bermacam-macam kisah, hingga ada yang lebih parah dari aku. Intinya, dengan buku ini aku bisa berdamai dengan scoliosis, buku ini membuat aku bangkit, buku ini mengingatkan bahwa aku special , aku istimewa.  Tak ada yang perlu ditakuti lagi, aku tahu Allah percaya bahwa aku kuat :)

                 Sampul Buku BDS
                                                           
So, terimakasih untuk pak pelatih (lupa namanya), temen SMP ku (A…), temen SMA ku (Biofact).. Sikap kalian dulu memang sempat tak membuat enak hati, tapi karena kalianlah aku jadi kenal sama skoliosis , karena kalianlah aku sadar akan sesuatu yang berharga di tubuhku ini :)

6 komentar:

  1. Dari waktu SMA aku juga cuma sekedar tahu aja kalo aku skoliosis, baru benar-benar ngeh pas 1-2 tahun belakangan ini ketika udah lulus kuliah dan masuk kerja.
    SEMANGAT sesama brace, Silvi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuek ya ka awalnya :) hihihi iya kka SEMANGAT juga buat kka , KITA BISA :D

      Hapus
  2. skoliosis itu cuma buat orang orang yang tahan sama cobaan Tuhan hehehe..

    BalasHapus
  3. baca blog panjenengan, saya jadi ngga merasa sendirian :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe alhamdulillah,skolioser banyak ko mba. Kita ga merasakan sendiri :) Salam skolioser dan salam semangat ya mba :)

      Hapus