Kamis, 24 Januari 2013

Dari Sebuah Film

Selamat malam..
Niatnya pengen posting sabtu malam kemarin tapi apa daya otak, hati, dan tangan lagi ga sikron. Alhamdulillah malam ini sedikit membaik, dan aku sudah siap untuk bercerita.
*Senyum dulu*:) :)

Jadi gini, bulan Januari ada film yang harus aku tonton. Judulnya " Mika". Filmnya berkisah tentang sepasang kekasih, Mika (Vino G. Bastian) dan Indi ( Velove Vexia) yang keduanya diuji dengan penyakit yang cukup serius. Mika terkena HIV/Aids dan Indi salah satu penderita skoliosis kelainan tulang belakang hingga harus dipapah dengan besi penyangga tubuh selama 23 jam (brace).
Nah, bukan soal percintaan anak remajanya tapi 'skoliosis' nya itu yang ngebuat aku untuk wajib nonton filmnya.

Kisah nyata yang diadaptasi dari Novel berjudul "Waktu Aku Sama Mika". Aku udah punya novelnya 3 tahun yang lalu, saat aku masih kelas 2 SMA dan sempat novel itu berkeliling di kelas. Karena novelnya sempat dibaca teman-teman, aku berinisiatif mengajak mereka yang udah baca untuk nonton filmnya. Aku sempat bingung, soalnya ada beberapa orang yang ingin aku ajak dan juga mengajak untuk nonton Mika. Sama semuanya juga mau tapi ga mungkin dalam waktu bersamaan. Setelah berfikir panjang, aku rasa teman SMA lah yang tepat ya lumayan bisa jadi ajang reunian juga kan. Awalnya sih ragu, tapi ya apa salahnya dicoba. Alhamdulillah ternyata ada beberapa yang antusias ingin menonton. Setelah berunding akhirnya diputuskanlah hari sabtu. Rencana yang mau ikut lebih dari 10 orang tapi beberapa diantara mereka ada halangan, jadi hanya berempat saja :(
Selain teman-teman SMA, aku juga ngajakin temen skolioser Tasik namanya Teh Winda.



Kami mengambil jadwal pukul 14.45.
Pemutaran film dimulai hingga sekitar pukul 16.00.
Ku lihat mereka disekeliling tak terlalu hanyut dalam kesedihan, beda halnya seperti aku sama Teh Winda. Bahkan scene yang dianggap mereka biasa-biasa saja atau lucu justru bagi kita bisa bikin nangis. Jangan tanya kenapa, pokoknya perasaan mereka dengan kita beda. Jika diperhatikan, air mata Teh Winda lebih banyak keluar. Aku bisa sedikit merasakan apa yang dirasakannya ko. Karena kita kan teman seperjuangan :)
Ada beberapa scene yang berhasil membikin memori dulu terputar kembali. Saat Indi pertama kali memakai brace Indi sangat kesusahan untuk duduk. Aku bilang ke Teh Winda, aku dulu menderita seperti Indi. Tapi dia bilang, dulu masih jarang brace seperti yang aku dan Indi pakai, dulu dia memakai brace yang benar-benar sampai leher sehingga sulit sekali untuk melirik. Katanya, kami masih bisa dibilang dapat bergerak bebas ga seperti dia dulu yang sangat terbatas. Ah ternyata ada yang lebih menderita ya, berarti kami harus lebih bersyukur lagi :)
Scene saat Indi harus duduk di pinggir lapangan menyaksikan temannya berolahraga, air mata tak terbendung terus saja membasahi kedua pipi. Aku pun pernah merasakan masa itu yang betapa sungguh menyedihkan sekaligus memalukan. Ya, dulu saat memakai brace aku hanya bisa melakukan olahraga yang ringan-ringan. Jika giliran olahraga basket atau lari, aku harus duduk saja di pinggir lapangan tak terlibat dengan mereka yang menikmati kesenangan dan kelelahan. Sempat, aku ngotot ikutan lari seperti halnya yang dilakukan Indi. Kalau Indi berhasil sampai dengan urutan ke-2 karena dengan bantuan kaki Mika, justru aku tidak. Aku sampai dengan urutan ke-2 terakhir huaha. Memalukan dan melelahkan tapi tetap membanggakan ko, akhirnya dengan brace berhasil berlari :D
Indi selama 3 tahun dapat kebijakan dari guru olahraga. Aku pun berterimakasih banyak kepada Pak Asep yang bersedia memberikan kebijakannya selama setengah tahun, memberikan nilai yang rasanya tidak pantas aku dapat.
Indi bangkit dari keterpurukannya setelah dia bertemu Mika. Sama ketika aku mulai bangkit kembali saat ada motivasi dari seseorang yang sangat peduli.

Ada scene Indi yang dinyatakan sudah bisa lepas brace karena dia sudah sembuh. Terlihat di bagian punggung Indi sudah tak ada bagian yang menonjol. Dengan keadaan mata yang sama-sama sembab aku mengatakan ke Teh Winda, andaikan kita benar bisa seperti itu o:) Sebelumnya perlu diketahui kalau skoliosis itu ga bisa sembuh sekalipun udah operasi. "Once scolioser, forever scolioser". Semoga saja ga ada skolioser yang setelah menonton film itu jadi terpengaruh pikirannya bahwa 'pake brace aja bisa sembuh'. Mengurangi kurva pun tak menjamin apalagi sampai sembuh. Brace cuma untuk mengurangi keluhan, menghambat pertumbuhan kurva, dan satu lagi untuk memperindah postur tubuh bak para model hahaha.... Yang jelas aku ga mau ada lagi skolioser yang dibuat sedih karena harapan kosong soal brace, seperti aku yang diceritain disini. Indi dia juga aslinya belum sembuh ko, sekarang dia 58 derajat sudah lepas brace hanya saja masih harus menjalani therapy.
Dari Mika, ada banyak juga yang harus aku terapkan. Tentang sebuah ketulusan menerima ketetapan dari-Nya. Dia ODHA tapi selalu saja terlihat bahagia tak pernah menyia-nyiakan sisa umur hidupnya. Yang hebat dia juga dengan tulus menerima Indi dengan kekurangannya sebagai pacarnya, dia katakan bahwa Indi tuh bukan cacat tapi special. (Tapi jangan nerima tulus dalam hal pacaran ya, dalam hal menerima kekurangan pasangan hidup yang halal saja, hihih). Satu makna yang dapat disimpulkan dari sosok Mika, ''Keep On Fighting Till The End''

Setelah menonton, sementara Teh Winda pulang aku bersama teman-teman SMA menuju food hall karena belum puas melepaskan kerinduan, nostalgia lah jadinya :D


*Taken by google


*Taken by google


Kicauan saya di twitter setelah menonton MIKA. Alhamdulillah merasa senang banyak yang RT (maklum ga pernah nyobain :D). Di RT sama Vino GB juga loooh hihihihi

Well, hari itu menyenangkan bisa bertemu dengan kawan lama juga bisa menonton MIKA bersama mereka dan teman skolioser.

"Hiduplah untuk saling menerima, menghargai dan melengkapi"


Selamat tidur bloggy :)

                                                                                  ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar